Kamis, 28 Februari 2013

Kemiskinan

Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, kemiskinan merupakan konsep dan fenomena yang berwayuh wajah, bermatra multidimensional. SMERU, misalnya menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki beberapa ciri:

1.    Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (papan, sandang, pangan).
2.    Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
3.    Ketiadaan jaminan masa depan (karna tiada investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4.    Kerentanana terhadap goncangan yang bersifat individual maupun masal.
5.    Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam.
6.    Ketida kterlibatan dalam kegiatan social masyarakat.
7.    Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharia yang berkesinambungan.
8.    Ketidakmampuan untuk berusaha karna cacat fisik maupun mental.
9.    Ketidak mampuan dan ketidak beruntungan social (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).[1][24]


Konsepsi kemiskinan yang bersifat multidimensional ini kiranya lebih tepat juga digunakan sebagai pisau analisis dalam mendefinisikan kemiskinan dan merumuskan kebijakan penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Adapun dimensi kemiskinan menurut Edi Suharto; menyangkut beberapa aspek-aspek sebagai berikut:



1.    Aspek ekonomi
Secara ekonomi, kemiskinan dapat di difinisikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat di gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang.
2.    Aspek Politik
Kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan (power). Kekuasaan dalam pengertiaan ini mencakup tatanan system politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumberdaya. Ada tiga pertanyaan mendasar terhadap pertanyaan ini, yaitu:
a.    Bagaimana orang dapat memampaatkan sumberdaya yang ada dalam masyarakat,
b.   Bagaimana orang turut ambil bagian dalam dalam pembuatan keputusan penggunaan sumber dana yang tersedia,
c.    Bagaiman kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan kemasyarakatan.
3.    Aspek social-psikologis
Kemiskinan secara social-psikologis menunjukkan pada kekurangan jaringan dan struktur social yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas.[2][25]

Paradigma kemiskinan. Kemiskinan pada hakekatnya merupakan persoalan klasik yang telah ada sejak ummat manusia ada. Hingga saat ini belum ditemukan suatu rumusan maupun formula penanganan kemiskinan yang dianggap paling jitu dan sempurna. Tidak ada konsep tunggal tentang kemiskinan. Strategi penangulangan kemiskinan masih harus terus menerus dikembangkan. Bila dipetakan, literatur mengenai kebijakan sosial dan pekerjaan sosial menurut Edi Suharto, menunjukkan dua pradigma seperti tabel berikut:[3][26]

PRADIGMA
Neo-Liberal
Demokrasi-Sosial
Landasan Teoritis
Individual
Struktural
Konsep dan indicator kemiskinan
Kemiskinan Absolut
Kemiskinan Relatif
Penyebab Kemiskinan
Kelemahan dan pilihan-pilihan individu; lemahnya pengaturan pendapatan; lemahnya kepribadiaan (malas, pasrah, bodoh).
Ketimpangan struktur ekonomi dan politik; ketidak adilan sosial
Strategi penanggulangan kemiskinan
§  Penyaluran pendapatan terhadap orang miskin secara selektif.
§  Member pelatihan keterampilan pengelolaan keuangan melalui inisiatif masyarakat dan LSM.
§  Penyaluran pendapatan secara universal
§  Perubahan fundamental dalam pola-pola pendistribusian pendapatan melalui Negara dan kebijakan social.



[1][24] Edi Suharto, Ph.D, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan social dan Pekerjaan Sosial, Cet .3, (Bandung: PT Rafika Aditama, 2009), hal. 132
[2][25] Ibid
[3][26] Ibid

0 comments:

Poskan Komentar